Seorang gadis remaja sedang duduk melamun di depan laptopnya, entah apa yang sedang ia fikirkan “hujan saja memberi kabar lewat mendungnya, bagaimana dengan mu rindu, adakah kabar untuk ku? ck puitis sekali aku” batin Binta.
Binta Zelvana Noelia, teman – temannya biasa memanggilnya Binta, gadis remaja berusia 18 tahun ini sedang menyiapkan diri untuk ujian kelulusannya. Tentu saja, ini tahun terakhir Binta memakai seragam putih abu – abu. Sama seperti remaja lainnya, Binta sangat menikmati masa – masa di Sekolah, kalau kata orang – orang sih “Tiada masa paling indah selain masa – masa di Sekolah”.
Malam itu, fikiran Binta sedang tidak tenang, ia terus memikirkan Alvaro, pria tampan bernama Alexander Alvaro Adhyamakasa adalah kekasihnya, sudah cukup lama Binta dan Alvaro menjalin hubungan, 2 tahun merupakan waktu yang tidak sebentar baginya.
Akhir – akhir ini sikap Alvaro terhadap Binta sangat berbeda dari sebelumnya, entah apa yang terjadi, Alvaro sudah jarang menelfon dan Binta harus menunggu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan balasan pesan dari Alvaro.
“Binta, kamu di rumah?”
“ada apa Alvaro? Tumben sekali” balas Binta melalui pesan.
“aku mau ngomong sesuatu ta, bisa?”
“hm, okai”
“aku telfon ya, ta”
*suara handphone berdering*
“Halo, ta?” terdengar suara Alvaro dari ponselnya.
“hai al” terdiam sekian detik.
“Kalau kata pamungkas, If you love somebody gotta set them free, I love you but I'm letting go, ta.” sambung Alvaro
Kalimat yang baru saja diucapkan Alvaro mengagetkan Binta, bagaimana bisa ia mengucapkan kata – kata itu secara tiba – tiba disaat semuanya baik – baik saja, mata Binta membulat, dadanya terasa sesak, Binta berusaha menjawab pernyataan Alvaro barusan, ia sesekali menghela nafas agar Alavaro tidak mendengar isak tangis yang Binta tahan.
“al, kalau kata pamungkas lagi, wait a minute till I get back to you”
“fill me now cause I want you, al” sambung Binta.
Alvaro hanya terdiam setelah mendengar balasan Binta.
“Al..?” Binta mencoba memastikan apakah telfon masih tersambung atau tidak.
“Ta, aku gatau kita ini sedang bertahan atau sedang menunda perpisahan, aku gamau kamu terlalu berharap kalau akhirnya semua itu akan terganti oleh pahitnya sakit hati” ucap Alvaro dengan nada sedikit rendah.
“tapi al, you don’t understand how much you really mean to me” terdengar nada pilu.
Suasana malam itu terasa lebih dingin dari beberapa menit sebelumnya, hujan tiba – tiba saja turun seakan tahu ada yang akan bersedih malam ini. Kalimat terakhir yang diucapkan Alvaro menjadi penutup percakapan sekalipun hubungan antara mereka berdua di telfon.
“ta, aku tutup dulu ya telfonnya” ucap Alvaro mengakhiri percakapan

baguss bangett terharuu😭
BalasHapushuaaa maaci:(
Hapusaa keren bangett
BalasHapusaaa makasih wawa udah bacaa hihi
HapusIni cerpennya ada kelanjutannya kah?
BalasHapus